Hai kawan! Udah Agustus ternyata. Cepet banget yah! Sekarang, gue udah kelas 8 lho. Gue yakin sebagian besar yang pernah mampir ke sini, gak pengen tau tentang kehidupan gue. Tapi, ini blog gue. Suka-suka gue dong! Gue mau memaparkan kisah yang gak pernah gue lupain sampai detik ini. Mau tau? Liat ke bawah yuk! :)
Ini kisah dimana, salah satu dari 365 x 13 kisah di sejarah hidup gue. Suatu hari dimana gue merasakan lapar yang begitu hebatnya melanda lambung kesayangan gue. Gue, dan ke-tiga temen gue menjanjikan sebuah kerja kelompok tentang tugas biologi. Guru biologi kita memberikan tugas untuk membuat kelompok yang nantinya akan merangkai sebuah video dengan tema pencemaran lingkungan. Video? Oh Noooo! Kita waktu itu baru kelas 7. Bikin presentasi aja udah pusing 11 keliling. Apalagi video? Oke, gue Dayu, Maylena, dan kembaran gue yang beda ortu bernama Sischa ini sepakat untuk kerja kelompok sepulang sekolah.
Sebelum kita mulai, kita berunding di depan perpustakaan yang sunyi senyap bagaikan tempat tak berpenghuni itu. Masalahnya, jika kita berunding disana, tempat yang awalnya sunyi senyap itu pasti bakal jadi pasar burung!
"Kita kemana dulu, nih? Langsung kerja atau kantin?" tanya Maylena dengan wajah yang tak bisa ditebak karena tertutup dosa-dosanya (haha. Maap May...).
"Kantin lah! Mana mungkin kita kerja tanpa makan. Kita butuh energi men!" sahut gue dengan cepat. Gue udah laper stadium akhir saat itu. So, yang gue pikirin cuma makan, makan, dan makan.
"Enak aja. Kita dikasi waktu cuma 1 minggu. Masa' mau di sia-siain pake makan?" Sischa melakukan penolakan dengan sedikit anarkis. Untung kita gak sampai jambak-jambakan bulu hidung.
"Ha? Sia-siain? Gak mau tau. Aku mau makan." (ini gak salah ketik! Gue kalo di sekolah pake "aku-kamu" kok!)
"Kerja aja langsung!" Sischa mulai narik-narik baju gue yang udah kegedean itu. Jelas, gue juga narik bajunya. Sementara, kedua makhluk lainnya itu, dengan asik menonton kami.
Dan perdebatan antar kembaran beda ortu pun terjadi...
"Ya udah, gini aja, yang mau ke kantin angkat tangan!" Untungnya dalam keadaan laper gini, gue masih bisa berpikir. Maylena, Dayu, dan tentu saja gue, serentak mengangkat ketiak (tangan).
Gue pun memandang ke arah Sischa dengan penuh kemenangan. Disini, posisi Sischa adalah yang paling tua. Pantaslah dia mengalah :D Kita pun dengan langkah yang menggebu-gebu segera berlari menuju kantin. Sementara, tas kita ditinggal di perpus. Jadi, kita bisa ambil sepulang dari kantin.
Di kantin, gue langsung membeli 1 bungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan mie. Gue bisa aja sih, beli 2 bungkus, atau bahkan 3. Tapi, keadaan dompet yang begitu kritis, sangat tidak memungkinkan.
Dayu beli sebungkus makanan ringan, Maylena beli seplastik siomay (siomaynya di taruh di plastik, sih!), dan Sischa, gue lupa dia beli apa.
"Jadi, nanti kita langsung kerja ya!" seru Sischa, dan kita hanya menganguk berkali-kali. Entah karena kita lagi asik makan atau salah urat. Entahlah.
Setelah kita selesai bersilahturahmi dengan makanan kantin, kitapun kembali ke perpustakaan. Dan di tengah perjalanan, seseorang yang paling menyebalkan di dunia lewat. Dia itu...mantan gue ._.
Dengan mulut yang gak bisa ia jaga, ia mulai mengejek nama bapaknya Maylena. "*******! *******!" (namanya gue sensor yoo... Tidak sesuai dengan pendidikan dan moral). Anehnya, si Maylena ini cuma ketawa ketiwi gak jelas. Mungkin dia bangga nama bapaknya di panggil-panggil.
Dan... Klimaks dari kisah ini terjadi. Kita mendapati pintu perpustakaan yang sudah terkunci! Oh No!
"Kok bisa ke kunci sih? Tas kita gimana dong? Barang-barang kita? Buku kita? Aduh... Mati kita!" Dayu yang sedari tadi belum ambil peran bicara, malah paling heboh di saat seperti ini.
"Tenang dulu. Coba tanya satpam yang itu!" kata Maylena sambil nunjuk seorang satpam dengan postur tubuh yang tegap dan wajah yang agak sangar.
"Iya, kamu aja Sis, yang tanya." Sischa memberikan usul yang sangat tidak menyenangkan.
"Sialan! Aku jadi kelinci percobaan!" gue melihat muka temen-temen yang awalnya kegirangan karena kenyang jadi sangat memprihatinkan seperti ini. Akhirnya gue mutusin untuk mendatangi satpam itu.
"Pak, tau ibu-ibu yang jaga perpus gak? Dia udah pulang?"
"Oh, udah pulang lah. Suaminya aja yang belu."
"Suaminya yang mana?"
"Tanya aja, yang mana Pak (lupa namanya gue-_-). Dia CS (Cleaning Service) disini. Emang kenapa?"
"Tadi kita mau kerja kelompok, terus kita tarus tas kita di perpus. Dan kita langsung ke kantin. Sepulang kantin, kita udah lihat pintu perpus ke kunci." kata gue dengan muka memelas. Sepertinya dia juga gak peduli.
"Ya, udah. Makasih ya, Pak." Gue cepat-cepat kembali ke gerombolan gue. Dan gue ceritain semua percakapan gue dengan satpam itu.
"Ya, udah. Ayo kita cari CS yang lain!" Sischa langsung berlari ke kamtin. Rupanya, dia tidak tau kalau gue udah capek karena kekenyangan.
Kita pun menemukan seorang CS gemuk. Dan gue pun mengulang percakapan tadi. Nah, setelah gue capek-capek cerita, CS itu nunjuk salah seorang temennya. "Nah, coba tanya sama yang itu!" What?! Gue udah capek-capek cerita , malah dikacangin!
Alhasil, gue mengulang percakapan itu untuk ketiga kalinya! Dan nafas gue udah hampir habis. Namun muncul kembali karena CS yang satu ini, memberi kita arah menuju rumah Ibu Perpus itu.
Kita dengan serentak mengucapkan terima kasih kepada CS itu. Tanpa ba bi bu, kita langsung menuju perumahan yang tak jauh dari belakan sekolah.
Yang gue maksud 'tak jauh' itu tadi, rupanya keliru! Jalanya cukup dalam, curam, dan sangat tidak enak dilewati karena banyak batu-batu besar. Kita juga perlu nanya-nanya ke beberapa orang yang ada disana. Hmmmpphh... Kalo kita lagi syuting di Dora the Explorer, udah gue panggil tuh si Peta!
Dalam kondisi itu, masih saja ada yang menggangu kita. Pak Andreas! CS kesayangan kita ini, muncul dengan motornya dan mengejar kita yang sudah kelelahn berjalan. Gue kira, dia mau ngasih tumpangan!
Akhirnya, sampailah gue di rumah Ibu penjaga perpus itu. Eh, dia malah marah-marah karena kita ninggal barang tanpa bilang. Untung aja dengan negosiasi yang baik, kita berhasil mendapat kunci yang sudah ditunggu-tunggu itu. Anak dari Ibu perpus yang masih kelas 3 sd itu, bersedia menunjukan jalan tercepat bagi kita. Meski dengan gaya yang sok-sokan.
Kita berhasil sampai di sekolah dengan selamat tanpa cela. Tanpa di komando lagi, kita langsung menuju ke kamar mandi sekolah. Sedari tadi kita memang sudah mengeluh ingin pipis. Kita langsung menyerbu semua kamar mandi. Sialnya, cuma kamar mandi gue yang gak ada gayungnya! Gue denger, semua temen gue udah keluar.
"Eh, ambilin aku gayung dong! Disini gak ada nih! Kalian gak bisa ninggalin aku. Kuncinya aku bawa!" jerit gue yang akhirnya berhasil pipis dengan sehat wal'afiat setelah Dayu memberikan gue sebuah gayung.
Kita langsung membuka pintu perpustakaan dengan terburu-buru. Akhirnyaaaa.... Kita kembali dipertemukan pada tas masing-masing. Kita pun cukup berterimakasih sama anak Ibu perpus yang nakal tapi baik itu. Kita gak perlu capek-capek lagi ke rumahnya.
Andai saja kita dengerin kata-kata Sischa buat gak pergi ke kantin... 3 jam yang direncanakan untuk kerja kelompok, hanya berguna 15 menit saja. Hfft...
Sekian, cerita gaje dari saya :)
Ini kisah dimana, salah satu dari 365 x 13 kisah di sejarah hidup gue. Suatu hari dimana gue merasakan lapar yang begitu hebatnya melanda lambung kesayangan gue. Gue, dan ke-tiga temen gue menjanjikan sebuah kerja kelompok tentang tugas biologi. Guru biologi kita memberikan tugas untuk membuat kelompok yang nantinya akan merangkai sebuah video dengan tema pencemaran lingkungan. Video? Oh Noooo! Kita waktu itu baru kelas 7. Bikin presentasi aja udah pusing 11 keliling. Apalagi video? Oke, gue Dayu, Maylena, dan kembaran gue yang beda ortu bernama Sischa ini sepakat untuk kerja kelompok sepulang sekolah.
Sebelum kita mulai, kita berunding di depan perpustakaan yang sunyi senyap bagaikan tempat tak berpenghuni itu. Masalahnya, jika kita berunding disana, tempat yang awalnya sunyi senyap itu pasti bakal jadi pasar burung!
"Kita kemana dulu, nih? Langsung kerja atau kantin?" tanya Maylena dengan wajah yang tak bisa ditebak karena tertutup dosa-dosanya (haha. Maap May...).
"Kantin lah! Mana mungkin kita kerja tanpa makan. Kita butuh energi men!" sahut gue dengan cepat. Gue udah laper stadium akhir saat itu. So, yang gue pikirin cuma makan, makan, dan makan.
"Enak aja. Kita dikasi waktu cuma 1 minggu. Masa' mau di sia-siain pake makan?" Sischa melakukan penolakan dengan sedikit anarkis. Untung kita gak sampai jambak-jambakan bulu hidung.
"Ha? Sia-siain? Gak mau tau. Aku mau makan." (ini gak salah ketik! Gue kalo di sekolah pake "aku-kamu" kok!)
"Kerja aja langsung!" Sischa mulai narik-narik baju gue yang udah kegedean itu. Jelas, gue juga narik bajunya. Sementara, kedua makhluk lainnya itu, dengan asik menonton kami.
Dan perdebatan antar kembaran beda ortu pun terjadi...
"Ya udah, gini aja, yang mau ke kantin angkat tangan!" Untungnya dalam keadaan laper gini, gue masih bisa berpikir. Maylena, Dayu, dan tentu saja gue, serentak mengangkat ketiak (tangan).
Gue pun memandang ke arah Sischa dengan penuh kemenangan. Disini, posisi Sischa adalah yang paling tua. Pantaslah dia mengalah :D Kita pun dengan langkah yang menggebu-gebu segera berlari menuju kantin. Sementara, tas kita ditinggal di perpus. Jadi, kita bisa ambil sepulang dari kantin.
Di kantin, gue langsung membeli 1 bungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan mie. Gue bisa aja sih, beli 2 bungkus, atau bahkan 3. Tapi, keadaan dompet yang begitu kritis, sangat tidak memungkinkan.
Dayu beli sebungkus makanan ringan, Maylena beli seplastik siomay (siomaynya di taruh di plastik, sih!), dan Sischa, gue lupa dia beli apa.
"Jadi, nanti kita langsung kerja ya!" seru Sischa, dan kita hanya menganguk berkali-kali. Entah karena kita lagi asik makan atau salah urat. Entahlah.
Setelah kita selesai bersilahturahmi dengan makanan kantin, kitapun kembali ke perpustakaan. Dan di tengah perjalanan, seseorang yang paling menyebalkan di dunia lewat. Dia itu...mantan gue ._.
Dengan mulut yang gak bisa ia jaga, ia mulai mengejek nama bapaknya Maylena. "*******! *******!" (namanya gue sensor yoo... Tidak sesuai dengan pendidikan dan moral). Anehnya, si Maylena ini cuma ketawa ketiwi gak jelas. Mungkin dia bangga nama bapaknya di panggil-panggil.
Dan... Klimaks dari kisah ini terjadi. Kita mendapati pintu perpustakaan yang sudah terkunci! Oh No!
"Kok bisa ke kunci sih? Tas kita gimana dong? Barang-barang kita? Buku kita? Aduh... Mati kita!" Dayu yang sedari tadi belum ambil peran bicara, malah paling heboh di saat seperti ini.
"Tenang dulu. Coba tanya satpam yang itu!" kata Maylena sambil nunjuk seorang satpam dengan postur tubuh yang tegap dan wajah yang agak sangar.
"Iya, kamu aja Sis, yang tanya." Sischa memberikan usul yang sangat tidak menyenangkan.
"Sialan! Aku jadi kelinci percobaan!" gue melihat muka temen-temen yang awalnya kegirangan karena kenyang jadi sangat memprihatinkan seperti ini. Akhirnya gue mutusin untuk mendatangi satpam itu.
"Pak, tau ibu-ibu yang jaga perpus gak? Dia udah pulang?"
"Oh, udah pulang lah. Suaminya aja yang belu."
"Suaminya yang mana?"
"Tanya aja, yang mana Pak (lupa namanya gue-_-). Dia CS (Cleaning Service) disini. Emang kenapa?"
"Tadi kita mau kerja kelompok, terus kita tarus tas kita di perpus. Dan kita langsung ke kantin. Sepulang kantin, kita udah lihat pintu perpus ke kunci." kata gue dengan muka memelas. Sepertinya dia juga gak peduli.
"Ya, udah. Makasih ya, Pak." Gue cepat-cepat kembali ke gerombolan gue. Dan gue ceritain semua percakapan gue dengan satpam itu.
"Ya, udah. Ayo kita cari CS yang lain!" Sischa langsung berlari ke kamtin. Rupanya, dia tidak tau kalau gue udah capek karena kekenyangan.
Kita pun menemukan seorang CS gemuk. Dan gue pun mengulang percakapan tadi. Nah, setelah gue capek-capek cerita, CS itu nunjuk salah seorang temennya. "Nah, coba tanya sama yang itu!" What?! Gue udah capek-capek cerita , malah dikacangin!
Alhasil, gue mengulang percakapan itu untuk ketiga kalinya! Dan nafas gue udah hampir habis. Namun muncul kembali karena CS yang satu ini, memberi kita arah menuju rumah Ibu Perpus itu.
Kita dengan serentak mengucapkan terima kasih kepada CS itu. Tanpa ba bi bu, kita langsung menuju perumahan yang tak jauh dari belakan sekolah.
Yang gue maksud 'tak jauh' itu tadi, rupanya keliru! Jalanya cukup dalam, curam, dan sangat tidak enak dilewati karena banyak batu-batu besar. Kita juga perlu nanya-nanya ke beberapa orang yang ada disana. Hmmmpphh... Kalo kita lagi syuting di Dora the Explorer, udah gue panggil tuh si Peta!
Dalam kondisi itu, masih saja ada yang menggangu kita. Pak Andreas! CS kesayangan kita ini, muncul dengan motornya dan mengejar kita yang sudah kelelahn berjalan. Gue kira, dia mau ngasih tumpangan!
Akhirnya, sampailah gue di rumah Ibu penjaga perpus itu. Eh, dia malah marah-marah karena kita ninggal barang tanpa bilang. Untung aja dengan negosiasi yang baik, kita berhasil mendapat kunci yang sudah ditunggu-tunggu itu. Anak dari Ibu perpus yang masih kelas 3 sd itu, bersedia menunjukan jalan tercepat bagi kita. Meski dengan gaya yang sok-sokan.
Kita berhasil sampai di sekolah dengan selamat tanpa cela. Tanpa di komando lagi, kita langsung menuju ke kamar mandi sekolah. Sedari tadi kita memang sudah mengeluh ingin pipis. Kita langsung menyerbu semua kamar mandi. Sialnya, cuma kamar mandi gue yang gak ada gayungnya! Gue denger, semua temen gue udah keluar.
"Eh, ambilin aku gayung dong! Disini gak ada nih! Kalian gak bisa ninggalin aku. Kuncinya aku bawa!" jerit gue yang akhirnya berhasil pipis dengan sehat wal'afiat setelah Dayu memberikan gue sebuah gayung.
Kita langsung membuka pintu perpustakaan dengan terburu-buru. Akhirnyaaaa.... Kita kembali dipertemukan pada tas masing-masing. Kita pun cukup berterimakasih sama anak Ibu perpus yang nakal tapi baik itu. Kita gak perlu capek-capek lagi ke rumahnya.
Andai saja kita dengerin kata-kata Sischa buat gak pergi ke kantin... 3 jam yang direncanakan untuk kerja kelompok, hanya berguna 15 menit saja. Hfft...
Amanat cerita ini adalah : Jangan ragu akan kata-kata dari orang yang paling tua. Karena yang tua-lah yang akan menang :D
Sekian, cerita gaje dari saya :)
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)