Saat aku berjanji akan menunggmu, aku benar-benar melakukannya. Sampai aku tak mampu menungumu lagi.
Pagi ini, aku berada di tempat pertama kali kita berbicara. Salah satu sudut sekolah yang sering kita lewati. Sering. Namun, waktunya yang berbeda. Banyak tergores kenangan kita di sini. Dan aku masih merasakannya. Hingga sekarang, aku masih merasakannya.
Aku sendiri. Aku berdiri tepat di anak tangga, yang dulu juga tempatmu berdiri. Aku memutar sebuah kaset di dalam otakku. Kaset yang berisi tentang memori kita. Aku ingat senyum pertamamu untukku.
Masih sama di tempat ini. Saat itu, kita berjanji akan datang. Kalau tidak salah, jam setengah 10. Tidak kukira, Kamu datang terlambat. Aku tidak meninggalkan tempat ini. Karena satu-satunya alasanku adalah untuk menunggumu. "Sorry, aku telat," itu kalimat pertama yang keluar dari bibirmu untukku. Kamu datang dengan gaya sok kerenmu. Dan kamu tersenyum padaku. Lalu, kita memulai percakapan pertama kita.
"Woy! Ngapain diem disitu? Pagi-pagi kok udah ngelamun!"
Aku memberhentikan lamunanku sejenak dan langsung menoleh ke belakang. Seorang teman sekelasku sedang berdiri di seberang tangga, melambaikan tangannya padaku.
"Mau tau urusan orang aja! Lagi pengin sendiri nih!" balasku dengan nada meninggi, agar terdengar olehnya. Dia mengacungkan ibu jarinya.
"Yah, baru aja aku mau kesana! Ya, udah, selamat menyendiri, penggalau akut!" Kemudian dia pergi.
Aku tersenyum kecil. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi. Siapa tahu, aku bisa bertemu denganmu di tempat ini. Aku tahu, pasti kamu melewati tempat ini. Sayangnya aku juga tahu, kalau kamu tidak lewat pada jam segini. Kamu selalu datang jam 6 lebih 10 menit. Sedangkan sekarang, sudah jam setengah 7. Maaf, aku terlambat. Lagi-lagi, alasan aku disini, adalah untuk menunggumu.
Jadi, apa kabar Kamu? Mungkin Kamu tidak tahu, bahwa setiap malam aku selalu merangkai dialog kita sendiri. Siapa tahu, suatu saat nanti kita tak sengaja bertemu. Dan aku tahu apa yang harus kukatakan padamu. Aku menunggu saat-saat itu.
Kamu juga tak tahu, bahwa setiap istirahat sekolah, aku selalu mengintip di sela-sela pintu kelas. Berharap Kamu turun dari tangga yang membatasi kelas kita. Sehingga, aku diam-diam bisa mengikutimu dari belakang. Aku selalu ingin tahu kemana Kamu pergi. Jadi, aku menunggumu.
Kamu ada. Kamu pergi. Kamu menoleh padaku. Kamu mengabaikanku. Aku menyukainya. Apapun yang Kamu lakukan, aku menyukainya. Jika suatu saat nanti Kamu melewati tempat ini, aku janji. Aku akan menghampirimu. Aku akan mengatakan, bahwa aku menyukaimu.
"Nungguin siapa sih? Bentar lagi bel, lho!"
"Aku menunggu orang yang mempunyai goresan luka di belakang kakinya."
Pagi ini, aku berada di tempat pertama kali kita berbicara. Salah satu sudut sekolah yang sering kita lewati. Sering. Namun, waktunya yang berbeda. Banyak tergores kenangan kita di sini. Dan aku masih merasakannya. Hingga sekarang, aku masih merasakannya.
Aku sendiri. Aku berdiri tepat di anak tangga, yang dulu juga tempatmu berdiri. Aku memutar sebuah kaset di dalam otakku. Kaset yang berisi tentang memori kita. Aku ingat senyum pertamamu untukku.
Masih sama di tempat ini. Saat itu, kita berjanji akan datang. Kalau tidak salah, jam setengah 10. Tidak kukira, Kamu datang terlambat. Aku tidak meninggalkan tempat ini. Karena satu-satunya alasanku adalah untuk menunggumu. "Sorry, aku telat," itu kalimat pertama yang keluar dari bibirmu untukku. Kamu datang dengan gaya sok kerenmu. Dan kamu tersenyum padaku. Lalu, kita memulai percakapan pertama kita.
"Woy! Ngapain diem disitu? Pagi-pagi kok udah ngelamun!"
Aku memberhentikan lamunanku sejenak dan langsung menoleh ke belakang. Seorang teman sekelasku sedang berdiri di seberang tangga, melambaikan tangannya padaku.
"Mau tau urusan orang aja! Lagi pengin sendiri nih!" balasku dengan nada meninggi, agar terdengar olehnya. Dia mengacungkan ibu jarinya.
"Yah, baru aja aku mau kesana! Ya, udah, selamat menyendiri, penggalau akut!" Kemudian dia pergi.
Aku tersenyum kecil. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi. Siapa tahu, aku bisa bertemu denganmu di tempat ini. Aku tahu, pasti kamu melewati tempat ini. Sayangnya aku juga tahu, kalau kamu tidak lewat pada jam segini. Kamu selalu datang jam 6 lebih 10 menit. Sedangkan sekarang, sudah jam setengah 7. Maaf, aku terlambat. Lagi-lagi, alasan aku disini, adalah untuk menunggumu.
Jadi, apa kabar Kamu? Mungkin Kamu tidak tahu, bahwa setiap malam aku selalu merangkai dialog kita sendiri. Siapa tahu, suatu saat nanti kita tak sengaja bertemu. Dan aku tahu apa yang harus kukatakan padamu. Aku menunggu saat-saat itu.
Kamu juga tak tahu, bahwa setiap istirahat sekolah, aku selalu mengintip di sela-sela pintu kelas. Berharap Kamu turun dari tangga yang membatasi kelas kita. Sehingga, aku diam-diam bisa mengikutimu dari belakang. Aku selalu ingin tahu kemana Kamu pergi. Jadi, aku menunggumu.
Kamu ada. Kamu pergi. Kamu menoleh padaku. Kamu mengabaikanku. Aku menyukainya. Apapun yang Kamu lakukan, aku menyukainya. Jika suatu saat nanti Kamu melewati tempat ini, aku janji. Aku akan menghampirimu. Aku akan mengatakan, bahwa aku menyukaimu.
"Nungguin siapa sih? Bentar lagi bel, lho!"
"Aku menunggu orang yang mempunyai goresan luka di belakang kakinya."
Siska Olie

goresan luka di belakang kaki keliatan ya? hehehe
BalasHapusKelihatan kok, nih aku punya *pamer kaki*
HapusNyasar di tempat yang salah gue ternyata.. Cuma ini komentar gue tentang postingan ini. Sangat puitis, namanya juga blogger cewek. Eh jgn lupa di feedback toh.
BalasHapusKayanya cinta yang sulit diungkapkan haha
BalasHapusItu kisah nyata Sis !?
BalasHapusazizkerenbanget.blogspot.com
Nggak dong-_-
Hapus