Semakin seseorang bertumbuh, maka semakin besar tanggung jawab yang ia pikul. Benar tidaknya, ternyata bisa saya rasakan sekarang.
Sore kemarin, seorang teman mengusulkan gagasannya bahwa ia ingin menulis dalam sebuah blog. Saya jadi teringat milik saya yang telah lahir sejak lima tahun lalu. Jika diibaratkan dengan sebuah rumah, mungkin blog ini sudah berdebu di setiap sudutnya. Banyak perabot yang mulai usang, tak berupa. Bahagianya, saya melihat tulisan-tulisan saya semakin berkembang tiap waktu.
Pertama kali menulis di sini, konten saya penuh simbol-simbol emoji [ :v :3 :p :) :( :D :s ]. Kala itu, saya sedang semangat-semangatnya membuat foto header yang menarik pembaca dengan bantuan aplikasi Pics Art dan Paint. Kemudian setelah konten saya selesai, saya membacanya dengan saksama guna menghindari salah ketik. Kemudian barulah berani mempromosikannya melalui twitter dengan berbagai tanda pagar dan menyebut akun yang dapat membantu membagikan link konten terbaru saya,
Sungguh memacu adrenalin ketika setelahnya saya langsung memandangi angka pada data statistik konten terbaru. Penasaran apakah angkanya akan naik atau sampai berapa lama ia akan tetap.
Takut jika tidak menarik.
Takut jika menyinggung.
Takut jika bahasa saya terlalu kekanak-kanakkan.
Toh, nyatanya saya tetap berani dan melanjutkan menulis.
Memasuki sekolah menengah atas, gaya tulisan saya sedikit berubah menjadi lebih formal (meskipun masih dengan beberapa emoji). Semakin bertambah dewasa, saya perlahan melupakan ruang ini. Ruang yang pernah saya bangga-banggakan kepada setiap insan yang baru saya temui. Di ruang ini juga lah, saya menempa diri saya untuk selalu menulis minimal sekali dalam seminggu.
SMK, sebenarnya saya lebih banyak berbicara dalam debat. Menyenangkan, namun tak mengurangi minat saya dalam menulis. Hanya saja, ego saya terlalu besar untuk tak melirik laman pribadi ini. Bahkan tahun 2016 saya tidak menorehkan apapun. Maaf.
Kepada siapa?
Kepada semua impian saya untuk menjadi penulis aktif,
Ternyata saya tidak konsisten.
Sekarang, saya sudah menempuh bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri Indonesia. (bagaimana saya bisa sampai di sana, akan saya ceritakan di lain waktu). Kata pertama yang bisa saya ungkapkan: berat.
Tugas. Kegiatan kemahasiswaan. Berjualan.
Selalu ada tugas yang diberikan tiap harinya. Saya akan keberatan jika disuruh menuliskannya pada sebuah kertas. Tulisan saya buruk. Dulu, guru SMK saya bahkan pernah mengatakan tulisan saya mirip ceker ayam. Memangnya, ada yang pernah melihat ayam menulis dengan cekernya?
Kegiatan kemahasiswaan yang tak henti-hentinya sebagai mahasiswa baru. Seminar, workshop, dan lain-lainnya. Ditambah lagi, buku-buku yang harus dibeli. Mahal. Dengar-dengar, buku-buku teval tersebut hanya akan dipakai setahun saja. Ditambah lagi baju kaos, tiket seminar, tiket konser, maupun acara lainnya yang diselenggarakan kampus. Semua mau tidak mau harus dibeli. Beban bagi orang tua saya.
Berjualan. Sejak awal tahun 2018, saya mulai menjajakan stiker, poster, foto, dan pembatas buku yang saya buat berdasarkan permintaan pelanggan. Pembeli saya meningkat setiap bulannya. Permintaannya pun bermacam-macam. Walau begitu, saya tetap senang. Hanya saja kekhawatiran mulai muncul jika saya tidak dapat menyelaraskannya dengan tugas dan kegiatan saya di kampus.
Semakin beranjak dewasa, saya jadi sadar ternyata dunia ini tak bisa lagi saya jadikan untuk bersenang-senang. Saya harus bekerja keras. Harus berjuang. Ketika saya mengeluh, saya selalu ingat kata-kata ini:
"Setiap kali kamu mengeluh, ingat bahwa sedang ada sesuatu yang isedang kamu perjuangkan."
Jadi penasaran, bagaimana kabar blogger lain yang dulu pernah berkunjung dan menyematkan komentarnya di postingan saya ya? Apakah mereka masih aktif menulis? Apakah ada yang sudah menikah? xixi.
Olie.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)