*
"Dasar anak nakal !" kataku, seraya memukul punggung cowok berambut lebat itu.
"Apaan sih ?! " dia membentakku, karena merasa tak bersalah.
"Ini kotak pensil siapa? Kok bisa di mejamu? " gerutuku, dan jujur aku memang yang mencari masalah dengannya.
"Mana gue tau ! Gue anak baru di kelas ini ." bantahnya dengan wajah lugu.
"Ini kotak pensil gue . Lo sengaja ngambil ya? Ah, lupain ! Males berantem sama orang gak penting. Gue benci elo ! " seruku dan pergi meninggalkannya yang merengut tak jelas.
Diam-diam aku menoleh ke belakang. Kamu sudah tak peduli dengan bentakanku tadi. Padahal aku ingin kita bisa beradu mulut lebih panjang.
Kalimat "aku benci kamu" tadi, asal kamu tau, itu hanya kamuflase dari kalimat "aku suka kamu".
Aku tidak benar-benar membencimu.
Saat aku membencimu, itu karena aku benar-benar suka padamu.
Lihat aku.. Kamu pasti sudah tahu semuanya kan?
Rasa suka yang terlalu berlebihan, mungkin membuatmu canggung.
Aku tidak menunjukkan rasa itu seluruhnya padamu. Aku hanya perlahan mendekatimu. Mencoba memasuki duniamu. Sebelum akhirnya kamu benar-benar membaginya denganku.
Hah? Apa yang kupikirkan tadi? Kamu milikku? Mungkin dunia sedang menertawaiku sekarang.
Aku sudah senang berada di dekatmu.
Aku ikut tertawa saat kamu tertawa walau bukan untukku.
Kamu tahu apa yang kurasakan, maka dari itu, kamu seperti mengawasiku.
Kamu seperti ingin memastikan apa aku benar-benar menyukaimu. Sepertinya kamu tak yakin.
Baahkan, semakin kamu tak tahu, itu semakin bagus bagiku.
"Oi ! Sini dulu, " teriakmu dari kejauhan. Aku menghampirimu, berharap kamu menginginkan sesuatu dariku.
"Kenapa?" tanyaku berpura-pura tak bersemangat. Lagi-lagi, ini hanya pura-pura.
"Minta nomer hape lo."
"Enggak." tolakku sok jual mahal
"Ah, dasar sok jual mahal sekali lo.. " Kamu menatapku dengan tatapan mengejek.
"Cepetan gak ? Temenku suka sama kamu."
Tuh kan, aku kegeeran lagi! Kukira nomer itu buat dirinya sendiri ! Enggak bakal ku kasi ! Aku segera pergi dari hadapannya. Aku tak memperdulikannya yang memanggil-manggilku.
Setiap hari pun begitu. Kamu memaksaku untuk memberikan nomerku padanya dan dengan gampang, kamu memberikan itu pada temannya. Oke , aku menyerah. Aku memberikan nomerku dengan harapan kamu juga mau sms aku. Berhari-hari setelah itu, dugaanku salah. Kamu tak pernah sms ke aku. Malah, temanmu yang terus meneleponku.
Esoknya, aku langsung berdiri di hadapamu dengan muka masam.
"Apaan sih temenmu itu ? Alay, aneh, jelek..." belum selesai cerocosanku , dia sudah menertawaiku.
"Hah? Jelek? Ganteng gitu kok, dibilang jelek. " belanya.
"Ganteng? Mata lo banyak beleknya ya? " seruku jijik.
"Menurut lo? Orang ganteng itu kayak gue? Hahah!"
Kata-katanya membuatku ingin berkata "ya" dan lagi lagi terkamuflase oleh kata "Narsis ! Aku benci kamu!"
Dari awal sudah kupertegas, aku tidak benar-benar membencimu.
Pasti kamu juga tau, walau aku tak menegaskannya langsung padamu. Kamu hanya tersenyum saat aku mengatakan "aku benci kamu" . Seolah-olah senyum itu mengatakan bahwa, "Aku tau kamu suka aku kan?"
Padahal aku ingin senyum itu menandakan, "Kamu suka sama aku kan? Aku juga suka kamu."
Lagi - lagi dunia menertawaiku. Aku jatuh cinta. Aku tidak ingin berkhayal dalam realita sekarang. Karena aku tau. Saat ini realita jauh lebih indah ketimbang khayalanku. Aku suka kamu. Jangan percaya kata-kata yang sedang mengkamuflase perasaanku.
Aku Jatuh Cinta Padamu.
:)

Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)