Dimana kami pernah saling berjanji untuk bersama di tengah kondisi yang ingin memisahkan sekali pun.
Dimana kami pernah berjabat tangan dan memejamkan mata untuk menyatukan mimpi.
Dimana kami pernah berkhayal tentang masa depan yang mungkin tak pernah terjadi. Dan kini dia membuatnya benar-benar tak terjadi.
Hanya dua imajiner sejati yang kini layaknya orang asing. Saat tak sengaja melenggangkan kaki di titik yang sama, tak ada lagi sapaan hangat. Terkurung dalam ego masing-masing.
Dia terlalu cepat membuat segalanya berubah. Dia terlalu mudah meniadakan kehadiranku. Dia terlalu mudah untuk menjadi populer tanpa mengikutsertakan diriku. Dia semakin cantik. Dia semakin mudah untuk mendapat apa yang dia ingin. Bahkan dia lupa pernah memiliki sahabat yang terabaikan seperti aku. Lucu sekali.
Aku masih ingat saat dia berkata padaku, "Pengin deh, rasanya jadi kamu, yang nggak pernah takut apa-apa. Yang bisa lindungin aku dari bahaya..."
Atau kalimat bantahan darimu, "Kita udah beda sekarang. Kamu bukan siapa-siapa, tapi aku? Aku punya nama besar. Kamu nggak mungkin bisa adaptasi sama habitat baruku..."
Iya, aku tahu dia yang baru. Dia dan teman-teman barunya, dengan kehidupan baru yang lebih sempurna. Dan aku benci itu. Setelah keadaan berangsur-angsur memburuk, kami tak pernah lagi berbicara sesuatu yang konyol. Seperti, apa ingus terbentuk karena upil yang mencair? Atau, berapa sering Thomas Edison menangis karena percobaan yang gagal? Kini, kami hanya berbicara jika ada salah satu dari kami yang membutuhkan.
Terakhir kali, kami berbicara karena dia menyuruhku mencari tahu tentang gebetannya yang satu kelas denganku. Simbiosis parasitisme.
Aku belum menceritakan bagaimana dia bisa merenggangkan hubungan kami yang sudah terbentuk sejak kelas 3 SD. Dia yang memulai. Dia penyebab semua kekacauan ini. Dia yang mengambil semua yang kupunya! Dia mengambil kesempatanku untuk memenangkan lomba pidato bahasa inggris. Di saat aku ingin maju ke panggung untuk bersaing dengannya di babak final, kertas pidatoku menghilang. Tahu-tahu, saat pengumuman pemenang usai dibacakan, kertas itu ada pada tasnya. Sialan!
Selain itu, dia pernah menggoda pacar pertamaku. Dia licik. Saat itu pacarku benar-benar terpengaruh dengan tipu muslihatnya. Aku ditinggalkan demi mutiara yang berharga itu. Bajingan!
Gara-gara dia, aku jadi lebih sering berkata kasar. Aku lebih sering mengutuknya dengan segala kemarahanku. Aku jadi selalu ingin menyainginya. Diam-diam, dia sudah menjadi the best motivator-ku. Apa aku harus berterimakasih akan hal ini? Baiklah. Terimakasih.
Tapi aku tetap tak ingin berdamai dengannya. Aku egois? Memang. Sudah kubilang, semua ini dia yang membuatnya. Tolol. Mau-maunya aku terpengaruh olehnya. Aku benar-benar percaya adanya status 'mantan sahabat'. Jadi, aku harus bagaimana mantan sahabatku? Memasang kembali puzzle mimpi kita yang terpecah, atau menyusun sendiri mimpiku yang akan menghancurkanmu suatu saat?
Maaf, aku pilih yang kedua.
[Cerpen ini 60% fiksi, sisanya nyata.]
Siska Olie

Kamu lagi ikut Lomba, ya ?
BalasHapusazizkerenbanget.blogspot.com
Iya ._.
Hapus