Langsung ke konten utama

Maret, Bulan Penuh Ujian



Selamat tanggal satu bulan ketiga, semuanya! Selamat ulang tahun bagi penyandang zodiak pisces dan aries!
Hm. Kalo blogger yang lain memulai postingan pertama 2015 di bulan januari lalu, berbeda dengan gue, yang melahirkan postingan pertama di tahun kambing pada hari ini. Bukannya tanpa alasan hamba jadi jarang ngeblog. Namun apa mau dikata, hamba sedang diperbudak oleh soal-soal yang memang tak pernah berperikemanusiaan ini. Huv.
Bentar lagi gue mau UN, jadi ya mau nggak mau harus berjuang biar rok biru ini bisa diganti dengan rok abu-abu!
Mungkin bulan ini bakal lebih jarang ngeblog. Seperti judulnya, bulan Maret bakal ada banyak ujian. Ujian pemantapan, ujian hidup, sampai ujian deres. Ya, itu.
Kata Mama, kita emang harus selalu diuji. Biar kita tau, seberapa kuat diri kita. Ujian yang datangnya dari Yang Maha Kuasa itu nggak ada habisnya. Kalo habis, malah hidup jadi nggak seru. Hidup kita cuma itu ituuu mulu.
Bulan Maret juga bukannya tanpa pengaharapan. Dan pengaharapan bukannya tanpa usaha. Bulan Maret bakal jadi bulan yang penuh usaha bagi gue. Usaha buat jadi yang lebih baik. Usaha buat menaikkan kembali nilai gue. Usaha buat bikin orang di sekitar gue bahagia. Dan yang paling utama, usaha gue buat nahan diri untuk nggak terlalu menjadi pendendam akut. Akhir-akhir ini kesabaran gue emang jadi lebih sering diisi ulang. Mulai dari punya temen yang nggak konsisten, temen yang asal ngomong dan ngerugiin gue, temen yang tiba-tiba jadi shit talker, sampai temen yang ngerusak kepercayaan gue. Dari dulu gue bukan orang yang bisa sabar setiap saat. Pengin banget, bisa punya sabar yang nggak ada habisnya. Pengin banget bisa jadi orang yang kalo orang lain buat jahat, gue nggak bales dengan kejahatan juga. Jadi orang baik itu susah. Mempertahankan kebaikan juga susah.


Gue punya temen. Dia orangnya sebenernya baik. Tapi karena sifat egoisnya itu, orang-orang jadi susah maafin dia. Meskipun berkali-kali dia berbuat baik, tapi kalau besoknya sifat egois itu muncul, ya, di mata orang-orang, dia itu bukan orang baik. Dan beberapa hari lalu, gue jadi korbannya. Dia jadi temen satu kelompok sama gue untuk bikin presentasi. Ini pertama kalinya gue sekelompok sama dia. Gue udah diingetin berkali-kali sama para handai taulan, untuk jangan kasi kepercayaan ke dia. Gue ngerti. Tapi, ya mau gimana lagi. Dalam kelompok gue, yang jago bikin presentasi cuma dia. Jadi, gue kasi dia bagian buat bikin presentasi. Dia juga dengan penuh keyakinan bilang kalo dia bisa bikin slide presentasinya. Dan di situ awal letak kesalahan gue.
Haminsatu sebelum presentasi, dia ternyata belum masukin bahan yang gue kasi. Sebenernya gue marah saat itu. Tapi gue nggak mau marahin dia di depan temen-temen. Gue pun cuma kasi tau dia kalo di rumah, dia harus tambahin bahannya. Dia sih oke oke aja. Kedua temen sekelompok gue juga iya iya aja. Gue percaya (lagi) sama dia.
Besoknya, di saat kami mau presentasi, ternyata dia belum masukin salah satu bahan yang gue kasi. Bener-bener nggak bisa dikasi kepercayaan. Gue kesel. Apalagi ini pelajarannya guru killer. Sial, mau jadi apa kelompok gue?! Menit-menit sebelum kami presentasi, akhirnya dia berhasil menyelesaikan slide presentasinya. Di depan kelas, gue berdoa semoga semuanya bakal dilancarkan. Tapi ternyata doa gue nggak terkabul.
Kertas berisi bahan presentasi yang dia kasi ke kami, berbeda dengan yang ada di slide. Gue sama salah satu temen gue kebingungan di depan kelas. Bikin malu. Gue nggak ngerti, apa yang dia pikirin saat itu. Gue nggak ngerti, kenapa dia ubah materinya. Gue nggak ngerti, kenapa dia jadi lepas tanggung jawab itu. Alhasil, semuanya berantakan. Nggak ada yang bisa diperbaiki lagi.
Temen gue itu adalah salah satu contoh, bagaimana susahnya orang yang sudah dipandang nggak baik menjadi baik. Karena pikiran kita yang udah nggak bisa lagi percaya sama dia, ya jadi apapun yang mungkin dia perbuat untuk memperbaki kesalahannya, bakal sia-sia banget.

Pertanyaannya, apa sih yang bisa kita perbuat untuk mengembalikan kepercayaan orang sekitar?
Melakukan perubahan besar-besaran daladalam diri kita? Belum tentu bisa mengubah cara pandang orang juga.
Jadi, menurut kalian bagaimana?
Tulis di kolom komentar ya! :)

Komentar

  1. Yeah semangat kak! semoga sukses presentasinya :D

    BalasHapus
  2. kepercayaan itu sebenernya sesuatu yang sulit didapatkan.
    makanya kalau dikasih kepercayan sama orang, jangan di sia-sia kan! :)
    gue punya beberapa temen kayak temen lo itu. egois, kalau kerja kelompok nggak kerja, dan lebih parah lagi. bentaran juga karma yang berbicara. percaya lah...

    BalasHapus
  3. Untuk mengembalikan kepercayaan sebenarnya agak sulit juga. Bener kata Jefferson, kepercayaan itu jangan pernah disia-siakan.
    Gua juga punya pengalaman dengan orang yang mirip temen lu itu. Yaitu adalah gua sendiri. Ya, karena gua sering begitu karena temen gua sendiri yang bikin gua gak nyaman. Kalo ngasih tugas ke gua banyak banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi karena perlakuan teman sekitar? Sebenernya kurang sependapat sih. Abisnya tergantung juga keluarga yg membentuk sifat tersebut. Biasanya kita bisa melihat sifat anak dari sifat orang tuanya dulu. Kalo orang tuanya ramah, sopan, ya kemungkinan kecil anaknya punya sifat sombong. Gitu sih menurutku.

      Hapus
  4. susah itu mah.. walaupun ada, pasti gak instan

    BalasHapus
  5. Mungkin gak terus sih ujian nya, ada jeda beberapa hari atau refreshing, contohnya wkt hari raya nyepi..

    BalasHapus
  6. Mungkin yg bisa kita perbuat utk mengembalikan kepercayaan org sekitar itu dgn mengubah si 'orang sekitar' ini. Misalnya klmpk presentasi nih, km jd org yg ga dipercaya di kelasmu, cari anggota klmpk di kls lain yg gatau sifat jelekmu. Sekian komentar dari tasya di hari nyepi. Makasi.

    BalasHapus
  7. Nggak ada cara lain selain kerja keras menjaga kepercayaan yg sudah diberikan, dan konsisten. Konsisten ini penting, soalnya bisa saja biasanya bisa dipercaya tahu-tahu tidak sengaja jadi lalai. Maklum, orang kan cenderung ingat yg negatif.

    Tapi kalau kasusnya seperti teman siska di atas, ya, jangan dicontoh aja deh. Sebaiknya dia tidak dijadikan teman dekat, cukup kenalan saja. Semoga anaknya segera sadar kalau perilakunya tidak baik setelah dijauhi teman2, lalu memperbaiki diri... :)

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)

Postingan Favorit

Setelah Mendongeng Pkn-_- (Part 2)

Gue minta duit maaf, soalnya gue gak nge-post pas di hari senin postingan kemarin-__- Setelah postingan yang terakhir itu, besoknya emang presentasi. Tapi ada urutan tersendirinya. Kelompok gue dapet urutan ke-empat. Lumayanlah. Karena, saat itu, banyaaaakkk banget kejadian yang gak terduga.  1. Dayu gak bawa laptop. Padahal di laptopnya dia, ada lagu latar yang udah kita siapin. Alhasil semua anggota marah sama dia. Untungnya, dia bawa flashdisk :) 2. Ternyata oh ternyata, flashdisk-nya Mamih Dayu ini kena virus! Jadi mau flashdisk ini dimasukin ke laptop manapun, hasilnya  tetep NIHIL. 3. Salah satu wayang kita HILANG. Gue cukup pasrah dengan kejadian flashdisk itu. Mungkin kelompok kita ditakdirkan untuk tidak memakai suara latar. Gue pun itung lagi semua wayangnya. Ternyata oh ternyata lagi, wayang kita menghilang satu. Dan itu adalah wayang si Pak Radjiman Wedyodiningrat.

Aku Akan Di Belakangmu Meski Tak Selamanya~

 Mataku terbelalak kaget dengan perasaan senang mendapati selebaran daftar lomba bahasa indonesia yang terpajang di mading sekolah. Keren ! Coba kalau aku bisa ikut..  "Mau ikut? Ikut aja kali, Fir. Kalau kusaranin nih yaa.. Mending ikut lomba baca puisi aja. Kamu kan bagus kalo baca puisi, siapa tau bisa menang..," saran Rima yang ada di sampingku.   "Emang kamu ikut?" hmm... Pertanyaan yang aku sudah tau jawabannya.  " Ikutlah... Tapi, aku pinjem puisimu ya... Nanti aku bacain pengarangnya deh.. Karya : Fira Putria... Hahahah..." aku tertawa mendengar cara bicaranya.  "Aku ikut kalau Vino ikut.." kataku akhirnya. Vino, orang yang sudah mengambil separuh hatiku selama 3 bulan.  "Yaah... Terserah deh... Kalau di pikir-pikir, emang dia bisa apa?" tanya Mira dengan nada merendahkan, lalu pergi ke kelas. 

Menjadi Sahabat yang Baik

Jadi apa yang muncul di pikiran lo saat mendengar kata 'sahabat' ?  Orang yang paling paling paliiingg deket sama lo?  Orang yang lebih dari sekedar teman? Atau, orang yang kalau dia pergi, lo berasa kehilangan salah satu organ terpenting lo? '-' Gue akan berhenti menerka-nerka. Karena gue tahu, pandangan tiap orang itu beda-beda. Jadi definisikan itu sendiri :3 Kalo menurut gue, sahabat itu: temen yang lebih dari sekedar temen biasa, berawal dari gak kenal > kenal > saling curhat > ejek-ejekan > saling lempar-lemparan upil :3 Eitts, tapi, apa menurut lo, orang yang lo anggap sahabat, juga menganggap lo sahabat? Oke, gue ganti pertanyaan. Apakah lo merasa, lo udah menjadi yang terbaik baginya? Manusia itu gak ada yang sempurna, gak perlu jadi sempurna untuk orang lain. Lo cuma perlu jadi yang terbaik sebisa lo. Jadi, bagaimana cara menjadi sahabat yang terbaik baginya?