Dia sudah pergi. Gadis manis itu merangkulnya mesra. Sesekali, gadis itu menoleh ke arahku dengan tatapan, "Hey, mantanmu jadi milikku sekarang.." Aku hanya tersenyum dan mmenyembunyikan wajahku. Niko, dia baru 1 minggu menjadi mantanku tapi ternyata dia sangat cepat menemukan kebahagiaannya. Aku sakit melihat pemandangan itu, tapi saat melihatnya tersenyum, sepertiga rasa sakitku mulai hilang. Aku harap
aku bisa menghilangkan rasa sakit itu sepenuhnya. Tidak apa-apa, selama aku masih melihat senyummu aku akan merasa baik-baik saja.
aku bisa menghilangkan rasa sakit itu sepenuhnya. Tidak apa-apa, selama aku masih melihat senyummu aku akan merasa baik-baik saja.
Berhari - hari sudah, aku melihatmu bersama gadis itu. Kamu selalu tau kehadiranku saat aku memandangi kalian. Maka itu, kamu menoleh padaku. Mataku pun memberikan tatapan yang penuh arti kalau , "aku ingin memilikimu kembali." Tapi, segera kuganti arti itu dengan, "Pacar barumu itu ingin kamu lebih memperhatikannya, selamat ya !" Aku merasa lebih lega dengan arti yang seperti itu.
Beberapa hari kemudian, aku datang ke sekolah dengan ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Saat istirahat pun, aku lebih memilih diam di kelas ketimbang ke kantin bersama teman. Rupanya, firasatku ini benar !
Pulang sekolah, Niko menghampiriku. Aku terdiam karena dia terdiam juga. Seharusnya aku bisa berlari menghindarinya sekarang. Ayolah kakiku.., bawa aku menjauh darinya.. Melihatku melangkahkan satu kaki, Niko mencengkeram pergelangan tanganku dan membawaku bersamanya.
"Kenapa sih? " pertanyaanku tak diperdulikannya. Dia terus membawaku tanpa memperdulikan orang sekitar yang sedari tadi memperhatikan kami berdua. Sampai akhirnya dia memberhentikanku di depan perpustakaan.
"Kamu mau kita masuk atau diam di luar sini ?" tanyanya penuh dengan keseriusan. Aku hanya menggeleng dengan arti , "aku tidak mau keduanya" tapi mungkin dia mengartikan gelenganku sebagai "terserahmu saja, aku ikut" sehingga ia membawaku masuk ke perpustakaan dan mengajakku duduk di pojokkan.
"Sekarang apa?" aku memulai pembicaraan.
"Aku sudah putus" katanya singkat.
"Oh... Itu saja yang ingin kamu katakan?"
"Tidak ! Aku tau kamu masih cinta kan sama aku?" aku tertegun mendengarnya.
"Sok tau !" jawabku dan mencoba beranjak dari situ tapi dia menahanku.
"Kenapa kamu membiarkan aku pergi meninggalkanmu, sementara kamu masih cinta sama aku?"
"Niko, cinta bukan tentang meninggalkan atau ditinggalkan. Tapi, tentang merelakan. Aku merelakan perasaanku agar kamu bahagia." paparku dengan mata berkaca. Aku mengangkat kepalaku agar air mata itu tidak jatuh.
"Kamu tau apa tentang kebahagiaanku? Asal kamu tau, aku masih cinta sama kamu. Gadis itu? Dia yang suka sama aku, bukan aku !" kata-katanya membuat aku terdiam. Aku menjaga keseimbanganku agar air mata yang sulit diajak kerja sama ini tidak jatuh.
"Menangislah. Kamu gak bisa menghindar dari air mata kalau kamu cinta sama aku. Ini." dia menawarkan sapu tangannya kepadaku. Aku enggan untuk mengambilnya. Dia memang selalu nekad, dia menyeka air mata yang sebenarnya belum jatuh ini dengan sapu tangannya.
"Dasar alay ! Tapi aku gak mau ngulang kesalahan yang sama seperti dulu." jawabku untuk segera mengakhiri semua ini.
"Dasar kegeeran ! Aku gak mau minta balikkan. Aku cuma mau supaya kamu tau kalau perasaanku masih sama besarnya seperti dulu. Lagipula, temenku ada yang suka sama kamu. Dia minta supaya aku jodohin dia sama kamu." katanya seraya mencubit hidungku.
"Aishh... Kamu ini yaaa.. !! Aku kan gak tau yang mana temenmu itu...!" aku pun segera membalas cubitannya itu.
"Kalian ini ya.. Ribut sekali ! Ini perpustakaan untuk belajar, bukan untuk pacaran !" suara ibu perpustakaan yang menggelegar itu mengejutkan kami. Kami segera berlari supaya terhindar dari hukuman.
Hmmm... Niko, terimakasih. Akhirnya kita masih bisa dekat seperti dulu. Aku tidak membutuhkan suatu hubungan khusus supaya kita dekat:)
Good...!
BalasHapus