Aku hanya
seorang gadis biasa. Gadis yang tak memiliki seseorang pun yang dipercaya. Meski
aku memilikimu, aku tak pernah percaya padamu. Aku gadis yang sangat mudah untuk
kau bohongi, bukan? Pernahkah kau mengihitung, seberapa banyak kau
membohongiku? Pertanyaan yang kulontarkan tentang gadis-gadis disekitarmu.
Bisakah kau berkata jujur padaku, sekali saja? Gadis yang kau sebut hanya teman
itu, sangat berani memanggilmu dengan kata “sayang”, ya. Bahkan dia berani
mendekatimu saat kita sedang kencan bersama. Aku jadi ragu, mungkin dia ingin
menunjukkan kecantikkannya padaku. Lalu, bagaimana dengan gadis-gadis lainnya
yang sering mengirimkan sms padamu, saat aku tak ada? Apa mereka temanmu juga?
Kau
sedang mempermainkanku, ya? Aku ini mainan yang menyenangkan, bukan? Jadi,
seberapa banyak kau mengatakan “Aku mencintaimu”, aku tak akan pernah percaya.
Lalu, apalagi dengan kalimat “Kau cantik” itu? Aku ini sangat jelek. Jadi di
mata sok hebat itu, aku ini cantik, ya? Itu lelucon terlucu yang pernah kau
lontarkan padaku. Aku selalu berpikir bahwa aku ini jelek. Bagaimana bisa kau mengatakan aku cantik?
Aku tidak hebat. Aku tidak populer. Aku tak punya seseorang yang tulus mencintaiku. Setiap saat kau menyuruhku untuk menjadi seorang yang populer. Memang aku siapa? Aku punya apa? Aku tak punya apa apa untuk ditunjukan. Aku tak punya sesuatu yang berharga selain kerja kerasku selama ini. Peluh peluh yang mengalir di pelipisku, yang kalian anggap seperti sampah, ini sangat berharga. Lebih berharga daripada emas. Meski gadis-gadis itu sangat cantik, bisakah mereka menghargai orang lain?
Aku ini lemah soal cinta. Aku sangat tak ingin kehilanganmu. Namun disisi lain, aku juga tak bisa mempertahankanmu. Aku selalu diam, saat kau menceritakan gadis-gadis di luar sana. Kau tak bisa menempatkan posisiku diantara mereka. Aku akan terlihat asing.
Aku tidak memiliki senyuman yang manis. Aku tak memiliki tubuh yang tinggi semampai. Kulitku tak sehalus mereka. Bisakah kau tidak berbohong tentang wajahku? Kau boleh berbohong tentang perasaan, tapi tidak untuk wajahku. Aku ini gadis yang jelek. Gadis yang selalu menundukkan kepala saat berjalan. Gadis yang sama sekali tak pernah memakai pakaian yang modis. Gadis yang bahkan tak pernah memakai sepatu hak tinggi sekalipun. Jadi, mengapa kau masih bertahan denganku?
Entahlah. Kadang, aku berpikir aku ingin merasakan rasanya menjadi populer. Atau mungkin tidak sama sekali. Aku hanya butuh ketulusan.
Aku tak mengerti diriku. Hidup di dunia yang penuh kebohongan denganmu, aku sangat bahagia. Kau, yang telah memberikan dunia ini. Aku sangat berterimakasih. Meski, aku yakin aku bukanlah satu-satunya yang kau cintai. Tapi permainan ini sangat menghiburku. Aku merasa, aku memang jelek dan tidak pantas berada di duniamu. Aku ini gadis yang tidak tahu diri. Gadis yang selalu berpura-pura kuat di hadapanmu. Kau mungkin menganggapku sangat lemah. Aku akan menguatkan diriku sendiri. Karena aku sudah mencintaimu. Aku hanyalah satu dari sekian gadis yang mungkin tak dianggap.
Rasanya, lebih baik menjadi "produk sisa", dibanding harus hidup dalam kebohongan yang menyedihkan.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)