Langsung ke konten utama

Yang Pergi, Yang Kuharap Kembali~

    Aku memikirkan apa yang seharusnya tak kupikirkan
    Aku merindukan apa yang seharusnya tak kurindukan
    Aku mencintai apa yang seharusnya tak kucintai
    Aku mengharapkan apa yang tak berhak menjadi milikku lagi
    Kini aku melihat langit dengan hampa. Langit yang sama saat aku pertama kali beradu mata denganmu. Menebarkan semua kenangan-kenangan kamu dan aku dulu. Tidak tahu, dulu atau nanti, yang kutahu, kini aku begini. Setiap pagi aku selalu menemukan mataku yang sudah membengkak. Bantal yang semalam kutiduri juga basah. Aku benci melihat diriku hancur seperti ini. Aku kehilanganmu. Menyakitkan, menyedihkan, dan aku kesepian. Tidak ada lagi seseorang yang mendampingiku. Mengapa aku sangat rapuh tanpamu? Aku ingin, di saat seperti ini kau hadir dan menggenggam tanganku. Tapi kenyataannya tidak mungkin.
    Aku selalu sendiri setiap hari. Tak ada lagi, sosok yang mengatakan "selamat pagi". Tak ada lagi, yang menghangatkan tangan dinginku. Tak ada lagi petikan-petikan gitar yang indah darimu. Hari-hari setelah kepergianmu, aku selalu memikirkanmu. Kenapa kau tidak tinggal lebih lama denganku? Bagaimana kabarmu, tanpa aku? Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Sepertinya kau terlihat lebih baik bersamanya. Aku ingin menanyakan semua itu. Tapi aku terbelenggu oleh ketakutan yang semakin menjadi. Setiap hari kita bertemu. Tak ada lagi sapaan. Seolah-olah kita adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal. Kapanpun aku melihatmu, hatiku berdebar keras dan tubuhku gemetaran begitu hebatnya. Aku takut hidup tanpamu.
    Air mataku terus mengalir setiap aku merindukanmu. Aku benar-benar kesepian. Tak ada lagi dering telepon yang mengatas namakan dirimu. Tak ada lagi yang membekaliku beribu-ribu peraturan konyol. Kenapa selalu ada penyesalan disetiap aku melihat ke belakang? Aku menyesal, karena tak berhasil mempertahankanmu. Aku menyesal telah membuatmu tak nyaman oleh sikapku. Penyesalan yang tak berguna sama sekali. Aku mencintaimu dulu dan sampai detik ini. Detik dimana kamu sedang tertawa bersama orang lain yang bukan aku. Aku tak bisa menggenggam tanganmu dalam kehampaan ini. Aku benci diriku yang terus mencintaimu dan berharap kau akan kembali. Bahkan, jika aku memiliki hari esok, aku akan mencintaimu melebihi hari ini.
    Aku tak pernah sehancur ini sebelumnya. Aku kuat, karena kamu ada di sampingku. Kini, kau berada lebih jauh daripada di sampingku. Tak ada lagi, yang bisa diajak bertengkar seperti anak kecil. Tak ada lagi bahu ternyaman tempat aku bersandar. Aku mencintaimu. Setiap aku merindukanmu, aku selalu menenangkan diriku sendiri dengan mengatakan, aku pasti bisa melupakanmu. Namun, itu tak pernah terwujud. Kembalilah kapanpun kamu mau. Kembalilah padaku, tempat paling teraman untukmu. Aku akan merubah semuanya. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Ayo, kita ulangi dari halaman pertama. Tanganku selalu terbuka untukmu, sayang.

Komentar

Postingan Favorit

Setelah Mendongeng Pkn-_- (Part 2)

Gue minta duit maaf, soalnya gue gak nge-post pas di hari senin postingan kemarin-__- Setelah postingan yang terakhir itu, besoknya emang presentasi. Tapi ada urutan tersendirinya. Kelompok gue dapet urutan ke-empat. Lumayanlah. Karena, saat itu, banyaaaakkk banget kejadian yang gak terduga.  1. Dayu gak bawa laptop. Padahal di laptopnya dia, ada lagu latar yang udah kita siapin. Alhasil semua anggota marah sama dia. Untungnya, dia bawa flashdisk :) 2. Ternyata oh ternyata, flashdisk-nya Mamih Dayu ini kena virus! Jadi mau flashdisk ini dimasukin ke laptop manapun, hasilnya  tetep NIHIL. 3. Salah satu wayang kita HILANG. Gue cukup pasrah dengan kejadian flashdisk itu. Mungkin kelompok kita ditakdirkan untuk tidak memakai suara latar. Gue pun itung lagi semua wayangnya. Ternyata oh ternyata lagi, wayang kita menghilang satu. Dan itu adalah wayang si Pak Radjiman Wedyodiningrat.

Aku Akan Di Belakangmu Meski Tak Selamanya~

 Mataku terbelalak kaget dengan perasaan senang mendapati selebaran daftar lomba bahasa indonesia yang terpajang di mading sekolah. Keren ! Coba kalau aku bisa ikut..  "Mau ikut? Ikut aja kali, Fir. Kalau kusaranin nih yaa.. Mending ikut lomba baca puisi aja. Kamu kan bagus kalo baca puisi, siapa tau bisa menang..," saran Rima yang ada di sampingku.   "Emang kamu ikut?" hmm... Pertanyaan yang aku sudah tau jawabannya.  " Ikutlah... Tapi, aku pinjem puisimu ya... Nanti aku bacain pengarangnya deh.. Karya : Fira Putria... Hahahah..." aku tertawa mendengar cara bicaranya.  "Aku ikut kalau Vino ikut.." kataku akhirnya. Vino, orang yang sudah mengambil separuh hatiku selama 3 bulan.  "Yaah... Terserah deh... Kalau di pikir-pikir, emang dia bisa apa?" tanya Mira dengan nada merendahkan, lalu pergi ke kelas. 

Menjadi Sahabat yang Baik

Jadi apa yang muncul di pikiran lo saat mendengar kata 'sahabat' ?  Orang yang paling paling paliiingg deket sama lo?  Orang yang lebih dari sekedar teman? Atau, orang yang kalau dia pergi, lo berasa kehilangan salah satu organ terpenting lo? '-' Gue akan berhenti menerka-nerka. Karena gue tahu, pandangan tiap orang itu beda-beda. Jadi definisikan itu sendiri :3 Kalo menurut gue, sahabat itu: temen yang lebih dari sekedar temen biasa, berawal dari gak kenal > kenal > saling curhat > ejek-ejekan > saling lempar-lemparan upil :3 Eitts, tapi, apa menurut lo, orang yang lo anggap sahabat, juga menganggap lo sahabat? Oke, gue ganti pertanyaan. Apakah lo merasa, lo udah menjadi yang terbaik baginya? Manusia itu gak ada yang sempurna, gak perlu jadi sempurna untuk orang lain. Lo cuma perlu jadi yang terbaik sebisa lo. Jadi, bagaimana cara menjadi sahabat yang terbaik baginya?