Aku memikirkan apa yang seharusnya tak kupikirkan
Aku merindukan apa yang seharusnya tak kurindukan
Aku mencintai apa yang seharusnya tak kucintai
Aku mengharapkan apa yang tak berhak menjadi milikku lagi
Kini aku melihat langit dengan hampa. Langit yang sama saat aku pertama kali beradu mata denganmu. Menebarkan semua kenangan-kenangan kamu dan aku dulu. Tidak tahu, dulu atau nanti, yang kutahu, kini aku begini. Setiap pagi aku selalu menemukan mataku yang sudah membengkak. Bantal yang semalam kutiduri juga basah. Aku benci melihat diriku hancur seperti ini. Aku kehilanganmu. Menyakitkan, menyedihkan, dan aku kesepian. Tidak ada lagi seseorang yang mendampingiku. Mengapa aku sangat rapuh tanpamu? Aku ingin, di saat seperti ini kau hadir dan menggenggam tanganku. Tapi kenyataannya tidak mungkin.
Aku selalu sendiri setiap hari. Tak ada lagi, sosok yang mengatakan "selamat pagi". Tak ada lagi, yang menghangatkan tangan dinginku. Tak ada lagi petikan-petikan gitar yang indah darimu. Hari-hari setelah kepergianmu, aku selalu memikirkanmu. Kenapa kau tidak tinggal lebih lama denganku? Bagaimana kabarmu, tanpa aku? Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Sepertinya kau terlihat lebih baik bersamanya. Aku ingin menanyakan semua itu. Tapi aku terbelenggu oleh ketakutan yang semakin menjadi. Setiap hari kita bertemu. Tak ada lagi sapaan. Seolah-olah kita adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal. Kapanpun aku melihatmu, hatiku berdebar keras dan tubuhku gemetaran begitu hebatnya. Aku takut hidup tanpamu.
Air mataku terus mengalir setiap aku merindukanmu. Aku benar-benar kesepian. Tak ada lagi dering telepon yang mengatas namakan dirimu. Tak ada lagi yang membekaliku beribu-ribu peraturan konyol. Kenapa selalu ada penyesalan disetiap aku melihat ke belakang? Aku menyesal, karena tak berhasil mempertahankanmu. Aku menyesal telah membuatmu tak nyaman oleh sikapku. Penyesalan yang tak berguna sama sekali. Aku mencintaimu dulu dan sampai detik ini. Detik dimana kamu sedang tertawa bersama orang lain yang bukan aku. Aku tak bisa menggenggam tanganmu dalam kehampaan ini. Aku benci diriku yang terus mencintaimu dan berharap kau akan kembali. Bahkan, jika aku memiliki hari esok, aku akan mencintaimu melebihi hari ini.
Aku tak pernah sehancur ini sebelumnya. Aku kuat, karena kamu ada di sampingku. Kini, kau berada lebih jauh daripada di sampingku. Tak ada lagi, yang bisa diajak bertengkar seperti anak kecil. Tak ada lagi bahu ternyaman tempat aku bersandar. Aku mencintaimu. Setiap aku merindukanmu, aku selalu menenangkan diriku sendiri dengan mengatakan, aku pasti bisa melupakanmu. Namun, itu tak pernah terwujud. Kembalilah kapanpun kamu mau. Kembalilah padaku, tempat paling teraman untukmu. Aku akan merubah semuanya. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Ayo, kita ulangi dari halaman pertama. Tanganku selalu terbuka untukmu, sayang.
Aku merindukan apa yang seharusnya tak kurindukan
Aku mencintai apa yang seharusnya tak kucintai
Aku mengharapkan apa yang tak berhak menjadi milikku lagi
Kini aku melihat langit dengan hampa. Langit yang sama saat aku pertama kali beradu mata denganmu. Menebarkan semua kenangan-kenangan kamu dan aku dulu. Tidak tahu, dulu atau nanti, yang kutahu, kini aku begini. Setiap pagi aku selalu menemukan mataku yang sudah membengkak. Bantal yang semalam kutiduri juga basah. Aku benci melihat diriku hancur seperti ini. Aku kehilanganmu. Menyakitkan, menyedihkan, dan aku kesepian. Tidak ada lagi seseorang yang mendampingiku. Mengapa aku sangat rapuh tanpamu? Aku ingin, di saat seperti ini kau hadir dan menggenggam tanganku. Tapi kenyataannya tidak mungkin.
Aku selalu sendiri setiap hari. Tak ada lagi, sosok yang mengatakan "selamat pagi". Tak ada lagi, yang menghangatkan tangan dinginku. Tak ada lagi petikan-petikan gitar yang indah darimu. Hari-hari setelah kepergianmu, aku selalu memikirkanmu. Kenapa kau tidak tinggal lebih lama denganku? Bagaimana kabarmu, tanpa aku? Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu? Sepertinya kau terlihat lebih baik bersamanya. Aku ingin menanyakan semua itu. Tapi aku terbelenggu oleh ketakutan yang semakin menjadi. Setiap hari kita bertemu. Tak ada lagi sapaan. Seolah-olah kita adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal. Kapanpun aku melihatmu, hatiku berdebar keras dan tubuhku gemetaran begitu hebatnya. Aku takut hidup tanpamu.
Air mataku terus mengalir setiap aku merindukanmu. Aku benar-benar kesepian. Tak ada lagi dering telepon yang mengatas namakan dirimu. Tak ada lagi yang membekaliku beribu-ribu peraturan konyol. Kenapa selalu ada penyesalan disetiap aku melihat ke belakang? Aku menyesal, karena tak berhasil mempertahankanmu. Aku menyesal telah membuatmu tak nyaman oleh sikapku. Penyesalan yang tak berguna sama sekali. Aku mencintaimu dulu dan sampai detik ini. Detik dimana kamu sedang tertawa bersama orang lain yang bukan aku. Aku tak bisa menggenggam tanganmu dalam kehampaan ini. Aku benci diriku yang terus mencintaimu dan berharap kau akan kembali. Bahkan, jika aku memiliki hari esok, aku akan mencintaimu melebihi hari ini.
Aku tak pernah sehancur ini sebelumnya. Aku kuat, karena kamu ada di sampingku. Kini, kau berada lebih jauh daripada di sampingku. Tak ada lagi, yang bisa diajak bertengkar seperti anak kecil. Tak ada lagi bahu ternyaman tempat aku bersandar. Aku mencintaimu. Setiap aku merindukanmu, aku selalu menenangkan diriku sendiri dengan mengatakan, aku pasti bisa melupakanmu. Namun, itu tak pernah terwujud. Kembalilah kapanpun kamu mau. Kembalilah padaku, tempat paling teraman untukmu. Aku akan merubah semuanya. Aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Ayo, kita ulangi dari halaman pertama. Tanganku selalu terbuka untukmu, sayang.
Komentar
Posting Komentar
terima kasih sudah berkomentar untuk mengembangkan blog ini menjadi lebih baik. let's be mutual! :)